Apa Bedanya Reksa Dana, Obligasi, Deposito, SBN, Sukuk, dan Saham?

22 September 2026 Ditulis oleh Gilang
Featured

Key Takeaways

1. Setiap instrumen investasi punya cara kerja, sumber keuntungan, dan perlakuan pajak yang berbeda, mulai dari bunga deposito, kupon obligasi/SBN/sukuk, hingga capital gain dan dividen saham.

2. Tingkat risiko dan likuiditas bervariasi antar instrumen: deposito dan SBN cenderung lebih stabil tapi terikat tenor atau jendela pencairan tertentu, sementara saham lebih fluktuatif namun bisa diperdagangkan kapan saja di hari bursa.

3. Reksa dana menawarkan fleksibilitas karena mencakup berbagai jenis dengan tingkat risiko berbeda-beda (pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham), dan keuntungannya tidak dipotong pajak lagi di tingkat investor karena sudah diperhitungkan di tingkat reksa dana.

Investasi punya banyak pilihan instrumen, mulai dari deposito, obligasi, SBN, sukuk, saham, sampai reksa dana. Masing-masing punya cara kerja, tingkat risiko, dan potensi keuntungan yang berbeda. Karena itu, sebelum mulai investasi, penting untuk memahami sebenarnya uang kita ditempatkan di mana, bagaimana kita mendapatkan keuntungan, berapa yang benar-benar kita terima setelah pajak, dan risiko apa yang mungkin terjadi.

Deposito: Menyimpan Uang di Bank dengan Bunga

Deposito merupakan produk simpanan di bank dengan jangka waktu tertentu. Berbeda dengan tabungan biasa yang bisa ditarik kapan saja, deposito umumnya memiliki pilihan tenor, misalnya 1, 3, 6, atau 12 bulan. Sebagai imbalannya, nasabah mendapatkan bunga sesuai ketentuan bank.

Cara kerjanya cukup sederhana. Misalnya kamu menempatkan Rp10 juta di deposito selama 12 bulan dengan tingkat bunga tertentu. Selama dana disimpan, kamu akan mendapatkan bunga sesuai ketentuan tersebut. Dana yang dihimpun bank kemudian digunakan untuk kegiatan intermediasi, seperti menyalurkan kredit kepada nasabah lain.

Untuk berinvestasi di deposito, kamu cukup memilih bank, menentukan nominal dan tenor, kemudian menempatkan dana. Karena fluktuasinya relatif rendah, deposito umumnya cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif yang lebih mengutamakan stabilitas dana dibandingkan potensi keuntungan yang lebih tinggi.

Ada dua hal yang sering terlewat. Pertama, bunga deposito dikenakan PPh final sebesar 20%, sehingga bunga yang benar-benar kamu terima lebih kecil dari angka yang ditawarkan. Kedua, simpanan dijamin LPS dengan dua syarat sekaligus: nilainya maksimal Rp2 miliar per nasabah per bank, dan tingkat bunganya tidak melebihi tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan LPS. Kalau bank menawarkan bunga di atas batas tersebut, simpanan itu tidak masuk penjaminan.

Selain itu, perlu diperhatikan juga ketentuan pencairan sebelum jatuh tempo, serta kenyataan bahwa imbal hasil deposito setelah pajak tidak selalu mampu mengimbangi laju inflasi. Stabilitas nilai nominal tidak selalu berarti stabilitas daya beli.

Obligasi: Meminjamkan Dana kepada Penerbit

Kalau deposito berarti menyimpan uang di bank, obligasi pada dasarnya merupakan surat utang. Ketika membeli obligasi, kamu memberikan dana kepada penerbit obligasi, yang bisa berupa perusahaan atau pemerintah. Sebagai imbalannya, penerbit akan membayar kupon secara berkala dan mengembalikan pokok investasi ketika jatuh tempo, sesuai ketentuan obligasinya.

Misalnya sebuah perusahaan membutuhkan dana untuk ekspansi dan menerbitkan obligasi senilai Rp100 miliar. Investor kemudian membeli obligasi tersebut. Jika kamu membeli obligasi senilai Rp10 juta dengan kupon 7% per tahun, secara sederhana kamu akan mendapatkan kupon sebesar Rp700 ribu per tahun sebelum pajak, dengan jadwal pembayaran mengikuti ketentuan obligasi tersebut. Kupon obligasi dikenakan PPh final sebesar 10% sesuai PP 91/2021, turun dari tarif sebelumnya 15%.

Namun, keuntungan dari obligasi tidak hanya berasal dari kupon. Obligasi yang diperdagangkan di pasar sekunder juga bisa mengalami perubahan harga. Jika kamu menjualnya sebelum jatuh tempo, harga jualnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan harga saat kamu membelinya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi harga obligasi adalah perubahan suku bunga. Ketika suku bunga pasar naik, harga obligasi yang sudah beredar dapat turun karena investor bisa mendapatkan alternatif obligasi baru dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, obligasi lama dengan kupon yang relatif tinggi bisa menjadi lebih menarik.

Selain risiko perubahan harga, ada juga risiko gagal bayar penerbit dan risiko likuiditas, yaitu kemungkinan sulit menjual obligasi pada harga wajar saat dibutuhkan. Karena itu, obligasi umumnya lebih cocok untuk investor dengan profil risiko moderat, meskipun tingkat risikonya tetap bergantung pada jenis dan kualitas penerbit obligasi tersebut.

SBN: Berinvestasi pada Surat Utang Pemerintah

SBN atau Surat Berharga Negara merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah. Secara sederhana, ketika membeli SBN, kamu memberikan dana kepada pemerintah melalui instrumen yang diterbitkan negara. Sebagai imbalannya, investor mendapatkan kupon sesuai ketentuan seri SBN yang dibeli. Sama seperti obligasi, kupon SBN dikenakan PPh final 10%.

Untuk SBN ritel, investor dapat membelinya melalui mitra distribusi resmi ketika masa penawaran dibuka. Prosesnya kurang lebih dimulai dari registrasi, memilih seri SBN, menentukan nominal investasi, melakukan pembayaran, kemudian SBN masuk ke portofolio investor.

Beberapa contoh SBN ritel antara lain Obligasi Negara Ritel (ORI), Savings Bond Ritel (SBR), Sukuk Ritel (SR), dan Sukuk Tabungan (ST). Masing-masing memiliki karakteristik dan mekanisme yang berbeda, terutama soal likuiditas.

SBN sering dianggap sebagai instrumen dengan risiko kredit yang relatif rendah karena diterbitkan oleh pemerintah. Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan jenis SBN yang dibeli, karena setiap seri memiliki ketentuan yang berbeda.

ORI dan SR dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sehingga harganya bisa naik dan turun apabila dijual sebelum jatuh tempo. Sementara SBR dan ST tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder sama sekali. Satu-satunya cara mencairkan sebelum jatuh tempo adalah melalui fasilitas early redemption.

Fasilitas ini tidak dikenakan biaya pencairan oleh pemerintah, tetapi dibatasi ketat. Pada seri-seri terbaru, ketentuannya kurang lebih seperti ini:

  • Maksimal 50% dari nilai kepemilikan yang bisa dicairkan
  • Ada minimal kepemilikan yang harus dipenuhi, misalnya Rp2 juta pada SBR014
  • Hanya bisa diajukan pada periode tertentu yang berlangsung sekitar seminggu
  • Hanya bisa diajukan lewat mitra distribusi tempat pembelian awal

Artinya, sebagian besar dana tetap terkunci sampai jatuh tempo. Ini yang perlu dipertimbangkan sejak awal, terutama kalau dana yang diinvestasikan mungkin dibutuhkan dalam waktu dekat.

Dengan karakteristik tersebut, SBN dapat menjadi pilihan bagi investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat, tergantung pada jenis SBN dan tujuan investasinya.

Sukuk: Investasi dengan Prinsip Syariah

Sukuk memiliki beberapa kemiripan dengan obligasi, tetapi menggunakan struktur dan prinsip yang sesuai dengan prinsip syariah. Karena itu, sukuk tidak menggunakan konsep bunga seperti obligasi konvensional, melainkan menggunakan akad dan struktur yang mendasari pemberian imbalan kepada investor.

Yang menarik, dua sukuk ritel pemerintah yang paling dikenal justru memakai akad yang berbeda.

Sukuk Ritel (SR) menggunakan akad Ijarah Asset to be Leased. Dana hasil penerbitan digunakan untuk membeli hak manfaat Barang Milik Negara dan/atau proyek, untuk kemudian disewakan kepada pemerintah. Dari kegiatan tersebut, investor mendapatkan imbalan berupa uang sewa atau ujrah sesuai ketentuan sukuk.

Sukuk Tabungan (ST) menggunakan akad Wakalah. Investor mewakilkan dananya kepada pemerintah melalui Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia untuk dikelola dan diinvestasikan pada aset produktif, berupa Barang Milik Negara maupun proyek dalam APBN. Imbalannya tetap bersumber dari aktivitas sewa atas aset tersebut, bukan dari bunga pinjaman.

Dalam kedua struktur itu, investor memiliki hak atas bagian dari aset atau manfaat yang menjadi underlying sukuk. Inilah yang membedakannya dari obligasi konvensional, di mana investor berposisi sebagai pemberi pinjaman.

Cara investasinya relatif mudah. Untuk sukuk ritel pemerintah, investor dapat melakukan pembelian melalui mitra distribusi resmi pada masa penawaran. Setelah melakukan pembayaran, sukuk akan tercatat sebagai bagian dari investasi investor.

Sukuk negara umumnya memiliki risiko kredit yang relatif rendah. Namun karakteristik likuiditasnya berbeda: SR bisa diperdagangkan di pasar sekunder sehingga harganya dapat berubah, sementara ST hanya bisa dicairkan lewat early redemption dengan batasan yang sama seperti SBR.

Karena itu, sukuk dapat menjadi salah satu pilihan bagi investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat yang ingin berinvestasi menggunakan instrumen berbasis prinsip syariah.

Saham: Membeli Kepemilikan di Sebuah Perusahaan

Berbeda dari deposito dan obligasi, saham merupakan bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan. Ketika kamu membeli saham perusahaan yang tercatat di bursa, kamu memiliki bagian kepemilikan atas perusahaan tersebut.

Keuntungan dari saham umumnya berasal dari dua sumber, yaitu capital gain dan dividen. Capital gain terjadi ketika harga saham naik dan kamu menjualnya pada harga yang lebih tinggi dibandingkan harga beli. Misalnya kamu membeli saham dengan harga Rp1.000 per lembar dan kemudian menjualnya ketika harganya menjadi Rp1.200. Selisih Rp200 per lembar tersebut merupakan capital gain sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan pajak yang berlaku.

Perlu diingat, saham di Bursa Efek Indonesia diperdagangkan dalam satuan lot yang berisi 100 lembar. Jadi untuk saham seharga Rp1.000, pembelian minimalnya adalah Rp100 ribu per lot, belum termasuk biaya transaksi.

Selain itu, perusahaan juga dapat membagikan sebagian keuntungannya kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, jika perusahaan memutuskan untuk membagikannya.

Untuk mulai berinvestasi saham, investor perlu memiliki rekening efek pada perusahaan sekuritas. Setelah menyetor dana, investor dapat memilih saham yang ingin dibeli melalui platform perdagangan yang disediakan sekuritas.

Namun, potensi keuntungan saham juga diikuti risiko yang lebih tinggi. Harga saham dapat naik dan turun secara signifikan karena berbagai faktor, seperti kinerja perusahaan, kondisi industri, suku bunga, kondisi ekonomi, hingga sentimen pasar.

Karena fluktuasinya relatif tinggi, saham umumnya lebih sesuai untuk investor dengan profil risiko agresif yang memiliki tujuan investasi jangka panjang dan siap menghadapi perubahan nilai investasi dalam jangka pendek.

Reksa Dana: Satu Wadah, Berbagai Jenis Investasi

Lalu, di mana posisi reksa dana di antara berbagai instrumen tersebut?

Reksa dana memiliki cara kerja yang berbeda. Kalau membeli saham berarti kamu secara langsung membeli saham sebuah perusahaan, pada reksa dana kamu membeli unit penyertaan dalam sebuah portofolio yang dikelola oleh Manajer Investasi.

Dana dari banyak investor dikumpulkan, kemudian dikelola ke dalam berbagai aset sesuai dengan kebijakan investasi reksa dana tersebut. Aset yang ada di dalam portofolio bisa berupa instrumen pasar uang, obligasi, saham, atau kombinasi dari beberapa aset tersebut.

Satu hal penting yang sering belum diketahui investor pemula: dana dan aset reksa dana tidak disimpan oleh Manajer Investasi, melainkan oleh Bank Kustodian yang terpisah dan diawasi OJK. Manajer Investasi bertugas mengelola portofolio, Bank Kustodian yang menyimpan aset dan mencatat kepemilikan unit penyertaan kamu.

Dari sisi pajak, keuntungan reksa dana bukan merupakan objek pajak di tingkat investor, karena pajak atas aset di dalam portofolionya sudah diperhitungkan di tingkat reksa dana. Jadi kenaikan Nilai Aktiva Bersih yang kamu terima tidak dipotong pajak lagi saat pencairan.

Karena isinya beragam, reksa dana sebenarnya tidak hanya memiliki satu tingkat risiko. Ada berbagai jenis reksa dana dengan karakteristik yang berbeda, dan batasan komposisinya diatur OJK.

Reksa Dana Pasar Uang

Menempatkan seluruh portofolionya pada instrumen pasar uang dalam negeri dan/atau efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Karakteristiknya cenderung lebih stabil sehingga umumnya lebih sesuai untuk investor konservatif.

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Menempatkan sekurang-kurangnya 80% portofolionya pada efek bersifat utang seperti obligasi. Karena memiliki eksposur terhadap pasar obligasi, nilainya dapat dipengaruhi oleh perubahan suku bunga dan kondisi pasar. Jenis ini umumnya dapat dipertimbangkan oleh investor dengan profil konservatif hingga moderat, tergantung karakteristik produknya.

Reksa Dana Campuran

Menggabungkan beberapa jenis aset, seperti saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan ketentuan tidak ada satu jenis aset yang melebihi 79% dari portofolio. Karena komposisinya lebih beragam, tingkat risikonya berada di antara reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham.

Reksa Dana Saham

Menempatkan sekurang-kurangnya 80% portofolionya pada efek bersifat ekuitas. Karena mengikuti pergerakan pasar saham, fluktuasinya juga lebih tinggi. Jenis ini umumnya lebih sesuai untuk investor dengan profil risiko agresif, terutama untuk tujuan investasi jangka panjang.

Yang perlu dipahami, reksa dana bukan produk simpanan dan tidak dijamin LPS. Nilai Aktiva Bersih dapat naik dan turun mengikuti pergerakan aset di dalam portofolionya, dan kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa mendatang.

Jadi, Mana yang Sesuai dengan Profil Risikomu?

Tidak ada satu instrumen yang secara otomatis cocok untuk semua orang.

Investor dengan profil konservatif mungkin lebih mengutamakan instrumen dengan fluktuasi yang relatif rendah, seperti deposito, instrumen pasar uang, atau jenis SBN tertentu. Investor moderat dapat mempertimbangkan obligasi, SBN atau sukuk tertentu, maupun reksa dana pendapatan tetap dan campuran. Sementara investor agresif yang siap menghadapi fluktuasi lebih tinggi dapat mempertimbangkan saham atau reksa dana saham.

Selain profil risiko, pertimbangkan juga kapan dana itu akan dibutuhkan. Deposito terikat tenor, SBR dan ST hanya bisa dicairkan sebagian pada jendela waktu tertentu, sementara reksa dana umumnya bisa dicairkan kapan saja pada hari bursa dengan proses pencairan beberapa hari kerja.

Yang menarik, reksa dana dapat mengakomodasi berbagai profil risiko karena jenisnya beragam. Mulai dari Reksa Dana Pasar Uang yang cenderung lebih konservatif, Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Campuran untuk investor yang siap menerima fluktuasi lebih besar, sampai Reksa Dana Saham untuk investor yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi.

Jadi, reksa dana bukan berarti satu jenis investasi dengan satu tingkat risiko. Jenis aset yang ada di dalam portofolionya yang menentukan karakteristik risiko dan potensi hasilnya.

Yuk, Mulai Investasi Reksa Dana di SayaKaya

Nggak perlu bingung memilih investasi yang sesuai. Di SayaKaya, kamu bisa menemukan berbagai pilihan reksa dana, mulai dari Reksa Dana Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Campuran, hingga Reksa Dana Saham.

Pilih sesuai tujuan, jangka waktu, dan kemampuanmu menghadapi risiko. Nggak perlu jadi analis dulu buat mulai investasi.

Yuk, mulai investasi reksa dana di SayaKaya dan wujudkan tujuan keuanganmu, sedikit demi sedikit.

Investasi mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Baca prospektus dan Fund Fact Sheet sebelum berinvestasi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa yang membedakan reksa dana dari instrumen investasi lainnya seperti saham atau obligasi?
Reksa dana bukan investasi langsung ke satu aset, melainkan wadah yang dikelola Manajer Investasi dan diisi berbagai aset seperti pasar uang, obligasi, atau saham sesuai kebijakan investasinya. Karena itu, reksa dana punya berbagai jenis dengan tingkat risiko berbeda, dan keuntungannya tidak dipotong pajak lagi di tingkat investor karena sudah diperhitungkan di tingkat reksa dana.
2. Apa perbedaan utama deposito dan obligasi?
Deposito adalah simpanan di bank dengan bunga dan dijamin LPS (dengan syarat nilai maksimal dan tingkat bunga tertentu), sementara obligasi adalah surat utang yang dibeli dari perusahaan atau pemerintah dengan imbalan kupon. Obligasi juga bisa diperdagangkan di pasar sekunder sehingga harganya bisa naik atau turun sebelum jatuh tempo, sedangkan deposito nilainya tetap tapi terikat tenor.
3. Apa itu SBN dan bagaimana cara membelinya?
SBN atau Surat Berharga Negara adalah surat berharga yang diterbitkan pemerintah, dengan investor mendapatkan kupon sesuai ketentuan seri yang dibeli. Untuk SBN ritel seperti ORI, SBR, SR, atau ST, investor bisa membelinya melalui mitra distribusi resmi saat masa penawaran dibuka, dimulai dari registrasi hingga pembayaran.
4. Apa bedanya sukuk dengan obligasi konvensional?
Sukuk menggunakan struktur dan prinsip syariah, seperti akad Ijarah pada Sukuk Ritel atau akad Wakalah pada Sukuk Tabungan, sehingga imbalannya berasal dari aktivitas sewa aset, bukan bunga pinjaman. Investor sukuk memiliki hak atas bagian aset atau manfaat yang menjadi underlying, berbeda dari obligasi konvensional di mana investor berposisi sebagai pemberi pinjaman.
5. Dari mana investor mendapatkan keuntungan dari saham?
Keuntungan saham umumnya berasal dari dua sumber, yaitu capital gain (selisih harga jual dan harga beli saat harga saham naik) dan dividen (pembagian sebagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham, jika perusahaan memutuskan membagikannya).
6. Apakah keuntungan reksa dana dikenakan pajak lagi saat dicairkan?
Tidak. Keuntungan reksa dana bukan objek pajak di tingkat investor, karena pajak atas aset di dalam portofolionya sudah diperhitungkan di tingkat reksa dana. Jadi kenaikan Nilai Aktiva Bersih yang diterima investor tidak dipotong pajak lagi saat pencairan.
7. Instrumen apa yang cocok untuk profil risiko konservatif, moderat, dan agresif?
Investor konservatif bisa mempertimbangkan deposito, instrumen pasar uang, atau jenis SBN tertentu. Investor moderat bisa mempertimbangkan obligasi, SBN atau sukuk tertentu, maupun reksa dana pendapatan tetap dan campuran. Sementara investor agresif yang siap menghadapi fluktuasi lebih tinggi bisa mempertimbangkan saham atau reksa dana saham.

Lihat Blog Lainnya

thumbnail
Education 21 September 2026

Berapa Dana Pensiun yang Harus Disisihkan per Bulan untuk Rp3 Miliar di Usia 60?

Dana pensiun sering terasa terlalu jauh untuk dipikirkan, apalagi ketika angka targetnya mencapai miliaran rupiah. Padahal, dengan waktu yang cukup panjang, dana besar bisa dipersiapkan sedikit demi sedikit setiap bulan.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 18 September 2026

Suku Bunga The Fed Naik Pertama Kali Sejak 2023, Warsh Tegaskan Risiko Inflasi Masih Tinggi: Bagaimana Investor Harus Bersiap? Weekly Newsletter 18 September 2026

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4,00% dalam keputusan yang diambil secara bulat oleh Federal Open Market Committee (FOMC). Ini adalah kenaikan suku bunga pertama sejak Juli 2023, menandai titik balik setelah lebih dari tiga tahun kebijakan cenderung akomodatif, dan dilakukan di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang kembali mendorong ekspektasi inflasi global naik.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Education 17 September 2026

Kenapa NAB Reksa Dana Bisa Naik dan Turun? Ini Faktor Ekonominya

Pernah lihat NAB reksa dana naik hari ini, lalu turun lagi beberapa hari kemudian? Hal ini wajar karena NAB mencerminkan nilai aset yang ada di dalam portofolio reksa dana. Ketika harga aset di dalamnya berubah, NAB juga bisa ikut berubah.

Baca Selengkapnya

Aplikasi SayaKaya:
Mudah, Cepat, dan Terkurasi!

Semua orang kini bisa berinvestasi Reksa Dana dengan mudah hanya lewat satu aplikasi saja. Download sekarang!

HFM - Unverified - Shadow HFM - Verified - Shadow HFM - Unverified HFM - Verified stars
Sayakaya Logo Copyright ©2024 Landing Page
Download Aplikasi
PT SAYAKAYA LAHIR BATIN
location Sahid Sudirman Centre lt 12
Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 13-15, Jakarta 10220
phone +62212527989
email hi@sayakaya.id
SayaKaya adalah aplikasi investasi reksa dana yang berlaku sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan produk reksa dana dan manajer investasi pilihan yang telah terkurasi. Dikelola dan dikembangkan oleh PT Sayakaya Lahir Batin yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan nomor registrasi KEP-17/PM.21/2021.

Investasi reksa dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Calon pemodal/pemodal wajib mempelajari prospektus sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.