Kenapa NAB Reksa Dana Bisa Naik dan Turun? Ini Faktor Ekonominya
Key Takeaways
1. NAB reksa dana bergerak mengikuti nilai aset di dalam portofolionya, dan setiap jenis reksa dana punya sensitivitas berbeda terhadap faktor ekonomi seperti suku bunga, inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi.
2. Reksa dana pendapatan tetap lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dan yield obligasi, sementara reksa dana saham lebih terpengaruh oleh kondisi ekonomi yang mempengaruhi kinerja perusahaan.
3. Reksa dana campuran bisa terkena kombinasi berbagai faktor karena portofolionya terdiri dari beberapa jenis aset, sementara reksa dana pasar uang cenderung memiliki fluktuasi NAB harian yang lebih terbatas.
Pernah lihat NAB reksa dana naik hari ini, lalu turun lagi beberapa hari kemudian? Hal ini wajar karena NAB mencerminkan nilai aset yang ada di dalam portofolio reksa dana. Ketika harga aset di dalamnya berubah, NAB juga bisa ikut berubah. Menariknya, nggak semua jenis reksa dana terpengaruh oleh kondisi ekonomi dengan cara yang sama. Ada reksa dana yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga, ada yang lebih banyak dipengaruhi pergerakan harga saham, dan ada juga yang terdampak perubahan nilai tukar atau kondisi ekonomi global. Supaya lebih gampang dipahami, kita akan melihat hubungan antara faktor ekonomi → aset apa yang terdampak → dan dampak lanjutan kepada jenis reksa dana yang memiliki aset tersebut.
Suku Bunga Naik, Kenapa NAB Reksa Dana Bisa Turun?
Suku bunga punya pengaruh besar terhadap harga berbagai aset, terutama obligasi. Ketika suku bunga naik, investor bisa mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi dari obligasi baru yang diterbitkan. Akibatnya, obligasi lama dengan tingkat kupon yang lebih rendah menjadi relatif kurang menarik. Harga obligasi tersebut kemudian bisa turun agar yield-nya kembali kompetitif. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, obligasi yang sudah beredar dengan kupon lebih tinggi bisa menjadi lebih menarik sehingga harganya berpotensi naik. Obligasi ini biasanya ada di reksa dana pendapatan tetap dan juga bisa menjadi bagian dari reksa dana campuran. Makanya, perubahan suku bunga bisa lebih terasa pada NAB reksa dana pendapatan tetap, terutama yang memiliki obligasi dengan durasi lebih panjang.
Contohnya: Misalnya sebuah reksa dana pendapatan tetap memiliki banyak obligasi pemerintah dengan jatuh tempo yang masih panjang. Ketika suku bunga naik:
Suku bunga naik → yield obligasi baru naik → harga obligasi lama turun → nilai portofolio turun → NAB reksa dana pendapatan tetap berpotensi turun.
Jadi, kalau kamu melihat NAB reksa dana pendapatan tetap turun ketika suku bunga sedang naik, salah satu faktor yang perlu dilihat adalah pergerakan harga obligasi di dalam portofolionya.
Inflasi Naik, Reksa Dana Mana yang Bisa Terdampak?
Inflasi juga bisa mempengaruhi berbagai aset, tetapi jalurnya bisa berbeda. Ketika inflasi meningkat dan bertahan tinggi, bank sentral bisa merespons dengan mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Artinya, dampak inflasi terhadap reksa dana bisa terjadi secara langsung maupun tidak langsung melalui suku bunga. Misalnya:
Inflasi naik → ekspektasi suku bunga naik → yield obligasi naik → harga obligasi turun.
Karena obligasi banyak terdapat dalam reksa dana pendapatan tetap, jenis reksa dana ini bisa ikut terdampak. Sementara itu, inflasi juga bisa mempengaruhi perusahaan. Kenaikan harga bahan baku, energi, dan biaya operasional bisa menekan keuntungan perusahaan. Kalau perusahaan tersebut merupakan bagian dari portofolio saham, harga sahamnya bisa ikut terpengaruh. Karena itu, inflasi juga dapat berdampak pada reksa dana saham dan reksa dana campuran, tergantung perusahaan dan aset yang ada di dalam portofolionya.
Nilai Tukar Rupiah Berubah, Apa Pengaruhnya ke NAB?
Perubahan nilai tukar terutama relevan untuk aset atau perusahaan yang punya hubungan dengan mata uang asing. Misalnya, perusahaan yang banyak melakukan impor bahan baku bisa menghadapi biaya yang lebih tinggi ketika Rupiah melemah. Sebaliknya, perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS bisa mendapatkan dampak yang berbeda. Karena saham perusahaan-perusahaan tersebut bisa menjadi bagian dari portofolio reksa dana saham atau reksa dana campuran, perubahan nilai tukar akhirnya bisa ikut mempengaruhi NAB. Jadi, reksa dana saham dengan eksposur besar terhadap perusahaan eksportir atau perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor bisa memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap pergerakan Rupiah.
Ekonomi Tumbuh, Kenapa Reksa Dana Saham Bisa Ikut Terdampak?
Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan aktivitas perusahaan. Ketika ekonomi tumbuh, konsumsi dan aktivitas bisnis bisa meningkat. Perusahaan berpotensi mendapatkan pendapatan dan keuntungan yang lebih baik. Ekspektasi tersebut dapat mempengaruhi harga saham. Nah, saham merupakan aset utama dalam reksa dana saham. Karena itu, ketika kondisi ekonomi mendukung kinerja perusahaan:
Ekonomi tumbuh → prospek pendapatan perusahaan membaik → harga saham berpotensi naik → NAB reksa dana saham berpotensi naik.
Sebaliknya, ketika ekonomi melambat, ekspektasi terhadap pendapatan dan keuntungan perusahaan bisa menurun sehingga harga saham juga dapat tertekan. Dampaknya kemudian tercermin pada NAB reksa dana saham.
Kondisi Pasar Obligasi, Kenapa Reksa Dana Pendapatan Tetap Lebih Sensitif?
Ini masih berkaitan dengan suku bunga, tetapi penting untuk memahami asetnya. Reksa dana pendapatan tetap mayoritas berinvestasi pada efek bersifat utang seperti obligasi. Karena itu, perubahan harga obligasi menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan NAB-nya. Misalnya, ketika pasar memperkirakan suku bunga akan naik:
Ekspektasi suku bunga naik → yield obligasi naik → harga obligasi turun → NAB reksa dana pendapatan tetap bisa ikut turun.
Namun, sensitivitasnya bisa berbeda antar produk. Reksa dana pendapatan tetap dengan obligasi berdurasi panjang umumnya lebih sensitif terhadap perubahan yield dibandingkan portofolio dengan durasi lebih pendek. Artinya, dua reksa dana pendapatan tetap bisa sama-sama berinvestasi di obligasi, tetapi NAB-nya belum tentu bergerak dengan besaran yang sama.
Kalau Pasar Saham Turun, Reksa Dana Mana yang Paling Terasa?
Kalau pasar saham mengalami tekanan, jenis reksa dana yang memiliki porsi saham lebih besar biasanya akan lebih langsung terdampak. Reksa dana saham memiliki mayoritas portofolionya pada saham, sehingga perubahan harga saham-saham dalam portofolio akan sangat mempengaruhi NAB. Sementara itu, reksa dana campuran juga memiliki saham, tetapi portofolionya bisa terdiri dari kombinasi saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Karena komposisinya lebih beragam, pengaruh penurunan saham terhadap NAB reksa dana campuran bisa berbeda dengan reksa dana saham.
Lalu Bagaimana dengan Reksa Dana Pasar Uang?
Reksa dana pasar uang memiliki karakter yang berbeda. Jenis reksa dana ini berinvestasi pada instrumen pasar uang dan/atau efek utang dengan jatuh tempo atau sisa jatuh tempo yang relatif pendek. Karena itu, pergerakan NAB-nya umumnya tidak sesensitif reksa dana saham terhadap perubahan harga saham atau reksa dana pendapatan tetap terhadap perubahan harga obligasi jangka panjang. Namun, bukan berarti reksa dana pasar uang sama sekali tidak terpengaruh kondisi ekonomi. Perubahan suku bunga tetap bisa mempengaruhi tingkat imbal hasil instrumen yang ada di dalam portofolionya. Jadi, ketika suku bunga berubah, dampaknya pada reksa dana pasar uang lebih banyak terlihat pada potensi imbal hasil instrumennya, sementara fluktuasi NAB hariannya cenderung lebih terbatas dibandingkan jenis reksa dana yang memiliki aset lebih volatil.
Jadi, Reksa Dana Mana yang Lebih Terpengaruh?
Setiap jenis reksa dana punya aset utama yang berbeda. Karena itu, faktor ekonomi yang paling berpengaruh juga bisa berbeda.
| Faktor Ekonomi | Aset yang Terdampak | Jenis Reksa Dana yang Relevan |
|---|---|---|
| Suku bunga | Obligasi, instrumen pasar uang, saham | Pendapatan tetap, pasar uang, saham, campuran |
| Inflasi | Obligasi & saham | Pendapatan tetap, saham, campuran |
| Nilai tukar | Saham perusahaan eksportir/importir, aset valas | Saham & campuran |
| Pertumbuhan ekonomi | Saham perusahaan | Saham & campuran |
| Perubahan yield obligasi | Harga obligasi | Pendapatan tetap & campuran |
| Pergerakan pasar saham | Harga saham | Saham & campuran |
| Kondisi ekonomi global | Saham, obligasi, nilai tukar, komoditas | Tergantung isi portofolio |
Jadi, ketika NAB reksa dana naik atau turun, jangan hanya melihat angka NAB-nya. Lihat juga aset apa yang ada di dalamnya. Reksa dana saham akan lebih banyak dipengaruhi pergerakan saham. Reksa dana pendapatan tetap lebih sensitif terhadap pergerakan harga dan yield obligasi. Reksa dana pasar uang cenderung lebih terkait dengan kondisi instrumen jangka pendek dan suku bunga. Sementara itu, reksa dana campuran bisa terkena kombinasi berbagai faktor karena portofolionya terdiri dari beberapa jenis aset. Itulah kenapa dua reksa dana bisa sama-sama mengalami kenaikan atau penurunan NAB, tetapi penyebab dan tingkat pergerakannya bisa berbeda. Memahami isi portofolio membantu kamu melihat bahwa perubahan NAB bukan terjadi begitu saja. Ada aset di dalam reksa dana yang nilainya bergerak karena kondisi ekonomi, dan perubahan nilai aset tersebut kemudian tercermin pada NAB.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Lihat Blog Lainnya
Apa Itu Sucorinvest Sustainability Equity Fund (SSUEF)? Kenalin Reksa Dana Saham yang Berdampak untuk SDGs
Sucorinvest Sustainability Equity Fund (SSUEF) adalah reksa dana saham yang dikelola oleh PT Sucorinvest Asset Management, dengan PT Bank HSBC Indonesia sebagai bank kustodian. SSUEF berbentuk Kontrak Investasi Kolektif berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, resmi efektif sejak 30 September 2021 (No. S-1200/PM.21/2021), dan mulai diluncurkan kepada publik pada 27 Oktober 2021. Reksa dana ini menggunakan denominasi Rupiah (IDR) dengan kode ISIN IDN000469301.
Baca Selengkapnya
Kenapa Reksa Dana Bisa Cocok dengan Profil Risiko yang Berbeda-Beda?
Setiap orang memiliki karakter dan toleransi risiko yang berbeda saat berinvestasi. Ada yang lebih nyaman dengan investasi yang relatif stabil, ada yang siap menghadapi naik-turunnya nilai investasi, dan ada juga yang berani mengambil risiko lebih tinggi untuk mengejar potensi imbal hasil yang lebih besar.
Baca Selengkapnya
Generasi Sandwich Susah Nabung? Ini Strategi Mengatur Keuangan yang Bisa Dicoba
Udah kerja dan punya penghasilan sendiri, tapi masih susah nyisihin uang tiap bulan?
Baca Selengkapnya
