Market Update

search
thumbnail
Market Update 2 November 2026

81 Saham HSC Keluar dari Perhitungan IHSG, Apakah Jadi Sentimen Positif atau Negatif bagi Pasar?

Mulai 2 November 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan 81 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan kapitalisasi pasar IHSG. Saham-saham ini masih dapat diperdagangkan seperti biasa, tetapi pergerakannya tidak lagi memengaruhi level IHSG.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 30 Oktober 2026

Yield SBN 10 Tahun Tembus 7,7% dan Rupiah Melemah, Apa Dampak The Fed Tahan Suku Bunga bagi Investor? (Weekly Newsletter 30 Oktober 2026)

Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 25,2 bps menjadi 7,706% pada penutupan 28 Oktober 2026, level tertinggi sejak 2022. Pada saat yang sama, rupiah berada di kisaran Rp18.175 per dolar AS, melemah sekitar 9,0% sejak awal tahun dari kurs awal tahun sekitar Rp16.675.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 23 Oktober 2026

Mengapa IHSG Rebound Setelah Tertekan Isu MSCI, dan Apa Dampak BI Tahan Suku Bunga bagi Investor? (Weekly Newsletter 23 Oktober 2026)

Pasar saham Indonesia melewati pekan yang bergejolak. Setelah MSCI membuka konsultasi atas proposal mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, IHSG sempat melemah 11,57% pada perdagangan Senin (19/10/2026) dan 3,64% pada Selasa (20/10/2026). Namun, IHSG kemudian kembali rebound.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 19 Oktober 2026

MSCI Ancam Turunkan Status Indonesia ke Standalone Market? Bagaimana Dampak dan Strategi Investasinya?

Pada 15 Oktober 2026, MSCI membuka konsultasi atas usulan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pengumuman ini langsung memicu tekanan di pasar saham, obligasi, dan rupiah pada perdagangan 16 Oktober 2026.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 16 Oktober 2026

Inflasi AS Naik, The Fed Berpotensi Menaikkan Suku Bunga, dan Ketegangan Geopolitik Belum Mereda, Bagaimana Strategi Investasinya? (Weekly Newsletter 16 Oktober 2026)

Di tengah sorotan global, MSCI memulai konsultasi atas proposal untuk mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, setelah sejumlah pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran soal transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi. Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak sideways di kisaran 5.800-6.000.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 9 Oktober 2026

Status Emerging Market Bertahan dan Pasar Tenaga Kerja AS Melambat, Apakah Jadi Katalis Positif bagi IHSG? (Weekly Newsletter 9 Oktober 2026)

FTSE Russell kembali menegaskan status pasar saham Indonesia sebagai emerging market dalam tinjauan tahunan klasifikasi negara, memberikan sinyal positif setelah sebelumnya muncul kekhawatiran soal transparansi dan integritas pasar modal domestik. Di sisi lain, pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan signifikan pada September 2026, dengan penambahan lapangan kerja yang jauh di bawah ekspektasi dan pertumbuhan upah yang semakin moderat kondisi yang turut memengaruhi pertimbangan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 2 Oktober 2026

Kenapa US Treasury Masih Melanjutkan Tren Kenaikan Yield Pasca The Fed Menaikkan Suku Bunga & Buyback Departemen Keuangan AS? (Weekly Newsletter 1 Oktober 2026)

Federal Reserve resmi menaikkan suku bunga pada September 2026. Namun setelah kenaikan tersebut, pelaku pasar justru mengurangi ekspektasi kenaikan lanjutan pada Oktober, menyusul data inflasi inti yang lebih rendah dari perkiraan meski satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun masih diantisipasi. Di tengah itu, tren kenaikan yield US Treasury masih berlangsung hingga saat ini, salah satunya dipicu oleh langkah Departemen Keuangan AS memperbesar rencana buyback obligasi tenor 10–20 tahun sejak 10 September 2026, yang mencerminkan pasar yang tetap waspada terhadap arah kebijakan moneter ke depan.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 25 September 2026

BI Tahan Suku Bunga di 5,75% di Tengah Tren Hawkish Global, Apa Dampaknya bagi Investor? Weekly Newsletter 25 September 2026

Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026. Keputusan ini menarik perhatian karena diambil justru saat bank sentral negara maju bergerak ke arah sebaliknya Federal Reserve (The Fed) baru saja menaikkan suku bunga acuannya ke 3,75%–4%, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa sejumlah bank sentral lain berpotensi menyusul menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi yang masih membandel.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Market Update 18 September 2026

Suku Bunga The Fed Naik Pertama Kali Sejak 2023, Warsh Tegaskan Risiko Inflasi Masih Tinggi: Bagaimana Investor Harus Bersiap? Weekly Newsletter 18 September 2026

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4,00% dalam keputusan yang diambil secara bulat oleh Federal Open Market Committee (FOMC). Ini adalah kenaikan suku bunga pertama sejak Juli 2023, menandai titik balik setelah lebih dari tiga tahun kebijakan cenderung akomodatif, dan dilakukan di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang kembali mendorong ekspektasi inflasi global naik.

Baca Selengkapnya
Sayakaya Logo Copyright ©2024 Landing Page
Download Aplikasi
PT SAYAKAYA LAHIR BATIN
location Sahid Sudirman Centre lt 12
Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 13-15, Jakarta 10220
phone +62212527989
email hi@sayakaya.id
SayaKaya adalah aplikasi investasi reksa dana yang berlaku sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan produk reksa dana dan manajer investasi pilihan yang telah terkurasi. Dikelola dan dikembangkan oleh PT Sayakaya Lahir Batin yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan nomor registrasi KEP-17/PM.21/2021.

Investasi reksa dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Calon pemodal/pemodal wajib mempelajari prospektus sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.