AS Perluas Tarif Impor, Harga Brent Kembali Melonjak, dan Gubernur BI Mundur Apa Dampaknya bagi Investor Indonesia? (Weekly Newsletter 31 Juli 2026)

31 Juli 2026 Ditulis oleh Hardy Tandoko
Featured

Key Takeaways:

  1. Tekanan global datang dari tiga arah. Tarif impor AS Section 301 mulai berlaku, harga minyak Brent sempat menembus $100 per barel, dan The Fed mempertahankan suku bunga meski tiga pejabatnya sudah mulai mendorong kenaikan. Bagi investor, ini bukan ketidakpastian tunggal ini tiga tekanan struktural yang berjalan bersamaan dan saling memperkuat.
  2. Langkah fiskal Indonesia solid: Panda Bond diserap 2,4x lipat, B50 aman, tarif AS di level terbawah. Di tengah tekanan global, pemerintah berhasil mendiversifikasi pembiayaan dan menjaga program energi berjalan tanpa hambatan sinyal bahwa ruang fiskal domestik masih cukup sehat.
  3. Tapi ada dua risiko domestik yang perlu diawasi investor: transisi BI dan lonjakan PHK. Mundurnya Gubernur Perry Warjiyo menciptakan ketidakpastian jangka pendek di pasar, sementara angka PHK 126.000 mengindikasikan tekanan dunia usaha yang sudah berjalan lebih awal dari yang terlihat di permukaan.

Pekan terakhir Juli 2026 diwarnai serangkaian perkembangan besar yang datang serentak dari berbagai penjuru dunia. Di level global, Amerika Serikat memperluas kebijakan tarif impornya ke 60 negara melalui Section 301, sementara harga minyak Brent kembali melonjak tajam di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memperparah gangguan pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz. The Fed memilih menahan suku bunga untuk kelima kalinya berturut-turut, meski tiga pejabatnya memilih beda suara dan mendukung kenaikan. Di sisi domestik, Indonesia mencatatkan berita mengejutkan: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dengan alasan pribadi, dan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai Penjabat Sementara.

Di tengah semua itu, Panda Bond perdana Indonesia sukses diserap pasar dengan permintaan yang jauh melampaui target, program biodiesel B50 dipastikan tetap berjalan meski harga minyak bertahan tinggi, namun di sisi lain data layoffs (PHK) mulai mengirimkan sinyal yang perlu diwaspadai.

Bagi investor, minggu ini bukan sekadar deretan berita ini adalah kumpulan faktor yang secara bersamaan membentuk ulang lanskap risiko dan peluang di pasar keuangan Indonesia. Artikel ini menguraikan setiap perkembangan secara proporsional, dari perluasan tarif impor AS dan lonjakan harga Brent hingga implikasi pergantian pimpinan BI.

Apa Dampak Perluasan Tarif Impor AS Section 301 bagi Indonesia?

Indonesia Masuk Kelompok Tarif 10% Lebih Rendah dari China

Presiden AS Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap 60 negara melalui kebijakan Section 301 dalam Trade Act of 1974, dengan besaran tarif antara 10% hingga 12,5%. Tarif ini dikenakan atas dasar isu kerja paksa (forced labor) dalam rantai pasok global. Indonesia masuk dalam kelompok 17 negara yang dikenai tarif 10%, bersama Malaysia, India, Meksiko, Kanada, dan Inggris. China dan sejumlah negara besar lainnya dikenai tarif lebih tinggi, yakni 12,5%.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan bahwa penilaian dari United States Trade Representative (USTR) ini merupakan pengakuan atas komitmen Indonesia dalam kerangka regulasi pencegahan dan pemberantasan praktik kerja paksa. Sementara itu, pemerintah masih menjalin komunikasi dengan AS terkait investigasi Section 301 yang berkaitan dengan isu excess capacity.

Sejumlah Produk Indonesia Masih Dikecualikan dari Tarif 10%

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso memastikan bahwa pengecualian tarif untuk sejumlah produk asal Indonesia masih berlaku, mengacu pada Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Trump. Pemerintah juga menegaskan masih menunggu hasil investigasi terkait isu excess capacity yang sedang dilakukan pihak AS, dan telah menempuh serangkaian proses termasuk written submission, kehadiran dalam public hearing, serta konsultasi antar pemerintah.

Bagaimana Ketegangan di Timur Tengah Mempengaruhi Pasar Minyak Global?

Laut Merah Makin Berbahaya, Rute Pelayaran Minyak Berubah

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memperparah gangguan di jalur pelayaran energi global. Meningkatnya risiko keamanan di Laut Merah mendorong sejumlah perusahaan asuransi membatasi perlindungan bagi kapal yang singgah di pelabuhan Arab Saudi. Sebagian pemilik kapal Barat memilih menghindari Selat Bab-el-Mandeb atau melintasinya dengan transponder dimatikan, sementara kapal-kapal dari negara yang berafiliasi dengan Iran seperti China masih bebas melintasi kawasan tersebut.

Untuk menjaga kelancaran ekspor, Arab Saudi memanfaatkan jalur Pipa Suez-Mediterania (SUMED), mengangkut minyak mentah dari Pelabuhan Yanbu ke Ain Sukhna di Mesir sebelum dialirkan ke terminal ekspor di Laut Mediterania. Pelabuhan Yanbu sendiri menjadi salah satu jalur alternatif terpenting bagi pasar minyak global saat Iran berupaya menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Harga Minyak Brent Volatil Sempat Tembus $100, Kini Bertahan di $90

Harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 8% dalam satu sesi perdagangan dan menembus US$100 per barel, sebelum akhirnya bertahan di sekitar US$90 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh pertempuran yang kembali memanas antara AS dan Iran, termasuk serangan terhadap pasukan AS di Yordania yang memancing respons keras dari Presiden Trump. Di sisi pasokan, persediaan minyak mentah komersial AS mencatat penurunan terbesar sejak pertengahan Juni, sementara cadangan minyak strategis AS turun untuk pekan ke-18 berturut-turut ke level terendah sejak 1983 dua faktor yang semakin memperketat pasar fisik minyak global.

Bagaimana Kondisi Ekonomi dan Sentimen Konsumen AS Terkini?

PDB AS Kuartal II 2026 Melambat, Tapi Permintaan Domestik Tetap Kuat Berdasarkan estimasi awal Biro Analisis Ekonomi (BEA), PDB riil AS tumbuh 1,5% secara tahunan pada kuartal II 2026 (April–Juni), melambat dari kuartal sebelumnya. Perlambatan ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya impor dan penurunan persediaan barang, bukan karena melemahnya permintaan domestik.

Sebaliknya, indikator permintaan domestik justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Belanja konsumen tumbuh 3,2%, melampaui ekspektasi pasar, sementara indikator penjualan akhir ke pembeli domestik swasta melonjak 3,9% laju tercepat sejak awal 2023. Investasi bisnis tetap solid, didorong oleh besarnya aliran modal ke kecerdasan buatan (AI), peralatan industri, dan perangkat lunak. Investasi tetap nonresidensial bahkan tumbuh 8,4%, dengan investasi peralatan industri mencatat kenaikan tertinggi sejak 2011.

Di sisi inflasi, indeks PCE indikator inflasi favorit The Fed turun 0,1%, memberikan sinyal bahwa tekanan harga mulai mereda meskipun belum kembali ke target 2%. Ke depan, prospek ekonomi AS masih dibayangi ketidakpastian dari konflik Timur Tengah, kenaikan harga energi, dan kebijakan tarif baru yang berpotensi menekan daya beli dan memperlambat konsumsi.

Keyakinan Konsumen AS Melemah, Tapi Belanja Masih Solid

Indeks keyakinan konsumen AS yang dirilis The Conference Board turun 1,4 poin menjadi 90,8 pada Juli 2026, di bawah ekspektasi pasar sebesar 92,4. Indikator kondisi saat ini bahkan turun ke level terendah sejak 2021. Pelemahan ini terutama dipengaruhi oleh tingginya harga bensin dan bahan pangan yang terus membebani rumah tangga, ditambah aktivitas perekrutan tenaga kerja yang mulai melambat setelah sempat menguat pada musim semi. Persentase responden yang menilai lapangan kerja masih melimpah turun menjadi 24,6%, dan selisih antara persepsi ketersediaan dan kesulitan memperoleh pekerjaan menyempit ke level terendah sejak 2021.

Meski demikian, konsumen AS menunjukkan ketahanan dalam sisi pengeluaran. Penjualan ritel meningkat selama lima bulan berturut-turut hingga Juni 2026, dan konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026. Survei Universitas Michigan bahkan menunjukkan sentimen konsumen meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan, meski sebagian besar data dikumpulkan sebelum eskalasi geopolitik terbaru di Timur Tengah.

The Fed Tahan Suku Bunga untuk Kelima Kalinya Tapi Ada 3 Dissenter

Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan federal funds rate pada kisaran 3,5%–3,75%, menandai penahanan kelima secara berturut-turut. Keputusan ini diambil melalui pemungutan suara 9-3, dengan tiga pejabat Lorie Logan (Dallas), Beth Hammack (Cleveland), dan Neel Kashkari (Minneapolis) memilih untuk mendukung kenaikan 25 basis poin.

Gubernur The Fed Kevin Warsh menegaskan keputusan menahan suku bunga bukan cerminan kelambanan bank sentral. Menurutnya, The Fed tetap berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2% dan tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang lebih tinggi. Inflasi pilihan bank sentral masih tercatat 3,4% secara tahunan hingga Mei 2026, jauh di atas target. Warsh juga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap bertahan tinggi sebuah sinyal yang perlu dicermati pasar menjelang pertemuan berikutnya.

Apa Perkembangan Penting dari Ekonomi Domestik Indonesia?

Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Jadi Pjs

Berita paling mengejutkan dari dalam negeri pekan ini adalah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, yang diumumkan secara resmi pada Senin, 27 Juli 2026. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Perry mundur karena alasan pribadi, tanpa merinci lebih lanjut. Perry Warjiyo sebelumnya telah menjabat sebagai Gubernur BI selama 7 tahun. Sebagai penggantinya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti resmi ditunjuk sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur BI. Destry menegaskan komitmen BI untuk tetap menjalankan seluruh mandatnya: menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Destry juga menekankan bahwa BI memiliki mekanisme pengambilan keputusan yang berjenjang melalui komite dan Rapat Dewan Gubernur, sehingga keberlangsungan kebijakan tetap terjaga di masa transisi.

Panda Bond Perdana Sukses Diserap Pasar, Target Tidak Dinaikkan

Penerbitan Panda Bond perdana Indonesia pada 23 Juli 2026 dinilai sukses oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Total order yang masuk mencapai CNY17 miliar jauh melampaui target CNY7 miliar namun pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan target penerbitan sesuai saran lead underwriter, dengan pertimbangan bahwa pembatasan penerbitan justru dapat meningkatkan harga surat utang dan menjaga yield tetap kompetitif.

Rincian penerbitan: tenor tiga tahun senilai CNY5,6 miliar dengan yield 1,90%, dan tenor lima tahun senilai CNY1,4 miliar dengan yield 2,19%. Purbaya menyebut yield yang diperoleh bahkan lebih baik dibandingkan Dim Sum Bond. Keberhasilan ini bukan sekadar pencarian sumber pembiayaan baru, melainkan juga langkah strategis untuk mendiversifikasi basis investor dan mengurangi ketergantungan pada pasar dolar AS.

Program B50 Biodiesel Dipastikan Aman Meski ICP Tembus $90 Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk program mandatori biodiesel B50 tetap aman meskipun harga minyak mentah Indonesia (ICP) telah melampaui rata-rata US$90 per barel. Pemerintah akan menjaga keseimbangan antara pasokan, harga, dan alokasi pembiayaan agar implementasi program berjalan optimal. Pasokan CPO nasional diperkirakan mencapai sekitar 53 juta ton pada 2026, dinilai mencukupi kebutuhan energi maupun pangan. Insentif biodiesel dari BPDP pada 2026 diperkirakan sebesar Rp32 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp47 triliun pada 2025.

Mengapa Data PHK Perlu Diwaspadai Investor?

Apindo Catat 126.000 Pekerja Terdampak Sinyal Perlambatan yang Tidak Bisa Diabaikan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat sebanyak 126.000 pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Januari hingga Mei 2026 berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan, dengan klaim Jaminan Hari Tua (JHT) akibat PHK mencapai sekitar 50.000 klaim pada periode yang sama. Angka ini secara signifikan berbeda dengan data Kementerian Ketenagakerjaan yang mencatat 23.470 pekerja perbedaan yang mencerminkan adanya perbedaan cakupan dan metodologi pencatatan antara kedua lembaga.

Bagi investor, perbedaan angka ini tidak mengurangi pentingnya tren yang sedang terjadi: PHK meningkat 52,16% dibandingkan periode Januari–April 2026, dengan Jawa Barat dan Banten menjadi wilayah dengan jumlah terdampak tertinggi. Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengingatkan bahwa peningkatan PHK bukan hanya fenomena domestik, melainkan juga tantangan global akibat perlambatan ekonomi, disrupsi teknologi, dan restrukturisasi rantai pasok. PHK adalah dampak akhir artinya tekanan pada dunia usaha sudah berlangsung lebih awal dan perlu menjadi salah satu indikator yang dipantau dalam menilai prospek konsumsi dan pertumbuhan ekonomi domestik ke depan.

Top Reksa dana of the week

30 Juli Cover Blog Top Reksa Dana of the Week 1.jpg

30 Juli Cover Blog Top Reksa Dana of the Week 2.jpg

Strategi Investasi Berdasarkan Profil Risiko dan Kondisi Market Terkini

Di tengah gejolak geopolitik yang mendorong harga minyak Brent kembali melonjak dan sempat menembus $100 per barel, perluasan tarif impor AS Section 301 yang menambah ketidakpastian pada rantai perdagangan global, lonjakan data PHK sebagai sinyal perlambatan ekonomi domestik yang perlu diwaspadai, serta transisi kepemimpinan Bank Indonesia yang terjadi di tengah kondisi pasar yang masih rapuh pendekatan investasi yang cermat dan terstruktur menjadi semakin krusial. The Fed yang kembali menahan suku bunga meski dengan tiga dissenter yang mendukung kenaikan menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter global, sementara BI Rate yang dipertahankan di 5,75% masih memberikan landasan bagi yield instrumen domestik untuk tetap kompetitif. Kondisi ini menciptakan peluang yang berbeda-beda tergantung pada profil risiko masing-masing investor.

Profil Risiko Konservatif: Reksa Dana Pasar Uang

Reksa dana pasar uang berpotensi menjadi salah satu pilihan paling relevan dalam kondisi seperti ini. Dengan BI Rate yang dipertahankan di level 5,75%, yield deposito dan instrumen pasar uang tetap berada pada level yang kompetitif, sementara likuiditas tinggi dan risiko yang relatif rendah menjadi keunggulan yang sangat berharga ketika ketidakpastian pasar berada di level tinggi. Beberapa reksa dana pasar uang yang dapat dipertimbangkan:

  • Pinnacle Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 5,39%*
  • I-Money Syariah dengan return 1 tahun terakhir: 5,25%*
  • Sucorinvest Money Market Fund dengan return 1 tahun terakhir: 4,37%*

Profil Risiko Moderat: Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Campuran

Reksa dana pendapatan tetap juga layak dipertimbangkan. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun (ID10Y) saat ini berada di atas 7,28%. Mengingat secara historis yield ID10Y jarang berada di atas 7%, ruang kenaikan yield diperkirakan semakin terbatas menjadikan ini momentum yang menarik bagi investor untuk mengunci imbal hasil yang relatif tinggi sebelum yield kembali turun. Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan:

  • Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund 1 dengan return 1 tahun terakhir: 6,47%*
  • Insight Renewable Energy Fund dengan return 1 tahun terakhir: 6,43%*
  • Danamas Stabil dengan return 1 tahun terakhir: 6,41%*


Reksa dana campuran dengan mayoritas alokasi pada sukuk korporasi juga layak dipertimbangkan, seperti Sucorinvest Sharia Balanced Fund yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibandingkan reksa dana pendapatan tetap, dengan return 8,08%* dalam satu tahun terakhir. Meskipun memiliki tingkat risiko yang relatif lebih tinggi, reksa dana ini menunjukkan kinerja yang konsisten dengan volatilitas yang terjaga.

Profil Risiko Agresif: Reksa Dana Saham dengan Strategi DCA

Bagi investor dengan profil risiko agresif, pelemahan pasar saham akibat ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak Brent justru dapat menjadi peluang masuk yang menarik. Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau investasi secara berkala sangat relevan untuk memitigasi risiko masuk di harga yang kurang optimal di tengah volatilitas yang masih tinggi. Beberapa produk yang dapat menjadi pilihan:

  • Sucorinvest Maxi Fund dengan return 1 tahun terakhir: 49,25%*
  • Sucorinvest SOE Plus Equity Fund dengan kinerja YTD sekitar 11,26%* lebih baik dibandingkan benchmark IDXBUMN20

*NAB 30 Juli 2026

Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.

Apa itu tarif Section 301 dan mengapa Indonesia dikenai tarif 10%?
Tarif Section 301 adalah kebijakan impor AS berdasarkan Trade Act of 1974 yang dikenakan kepada negara-negara yang dinilai memiliki praktik kerja paksa (forced labor) dalam rantai pasoknya. Dari 60 negara yang terdampak, Indonesia masuk kelompok tarif 10% lebih rendah dibandingkan China yang dikenai 12,5%. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa sejumlah produk masih dikecualikan berdasarkan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah disepakati Presiden Prabowo dan Presiden Trump.
Mengapa Gubernur BI Perry Warjiyo mundur dan apa dampaknya bagi pasar?
Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri pada 27 Juli 2026 dengan alasan pribadi, setelah menjabat selama 7 tahun. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai Penjabat Sementara dan menegaskan BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas keuangan. Meski mekanisme pengambilan keputusan BI tetap berjalan melalui Rapat Dewan Gubernur, pergantian pimpinan di tengah kondisi pasar yang masih rapuh menjadi faktor yang layak dicermati investor dalam jangka pendek.
Apa itu Panda Bond dan mengapa Indonesia menerbitkannya?
Panda Bond adalah obligasi berdenominasi yuan (CNY) yang diterbitkan oleh entitas asing di pasar modal Tiongkok. Indonesia menerbitkan Panda Bond senilai CNY7 miliar pada 23 Juli 2026 dengan yield 1,90% (tenor 3 tahun) dan 2,19% (tenor 5 tahun) dan mendapat respons luar biasa dengan total order masuk CNY17 miliar atau 2,4 kali lipat dari target. Penerbitan ini bertujuan mendiversifikasi sumber pembiayaan pemerintah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar dolar AS.
Mengapa harga minyak Brent sempat menembus $100 per barel dan apa dampaknya?
Lonjakan harga minyak Brent dipicu oleh eskalasi konflik AS-Iran yang memasuki hari ke-13 serangan berturut-turut, ditambah serangan Houthi terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah yang membuka front konflik baru. Gangguan di dua jalur energi utama Selat Hormuz dan Laut Merah secara bersamaan memperketat pasar pasokan global. Harga kemudian turun ke sekitar $90 per barel, namun risiko kenaikan ulang tetap tinggi selama konflik belum mereda, dan ini berpotensi kembali mendorong inflasi AS naik.
Seberapa serius lonjakan PHK di Indonesia dan mengapa investor perlu memperhatikannya?
Apindo mencatat 126.000 pekerja terdampak PHK sepanjang Januari–Mei 2026, meningkat 52,16% dibandingkan periode sebelumnya. Data Kementerian Ketenagakerjaan lebih rendah di angka 23.470, mencerminkan perbedaan metodologi pencatatan. Bagi investor, angka ini penting karena PHK adalah dampak akhir artinya tekanan pada dunia usaha sudah berlangsung lebih awal. Jika tren berlanjut, daya beli rumah tangga yang selama ini menjadi bantalan konsumsi domestik berpotensi melemah, dan ini berdampak langsung pada prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Apa keputusan The Fed terkait suku bunga dan apa artinya bagi pasar global?
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% dalam pertemuan terbaru kali kelima berturut-turut menahan suku bunga. Namun keputusan ini tidak bulat: tiga pejabat (Logan, Hammack, Kashkari) memilih mendukung kenaikan 25 basis poin. Gubernur Kevin Warsh membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Dengan inflasi AS masih di 3,4% dan harga energi yang kembali naik akibat konflik Timur Tengah, tekanan terhadap The Fed untuk bertindak lebih agresif berpotensi meningkat dalam pertemuan berikutnya.

Penulis: Hardy Tandoko (bersertifikasi WPPE, WMI, dan CSA)


Mulai Investasi Lebih Mudah Bersama SayaKaya

Temukan reksa dana sesuai tujuan investasi,  dan mulai investasi hanya dalam beberapa langkah.

Download Aplikasi SayaKaya Sekarang!

https://sayakaya.go.link/download-disini

Lihat Blog Lainnya

thumbnail
Kulik Reksa Dana 29 Juli 2026

Mau Cari Reksa Dana Syariah dengan Return Relatif Stabil di Tengah Ketidakpastian Geopolitik? Kenali STAR Stable Amanah Sukuk

Sejak diluncurkan pada November 2023, STAR Stable Amanah Sukuk mencatatkan kinerja 19,69% jauh melampaui tolok ukurnya yang hanya 13,32%. Bahkan dalam 1 tahun terakhir pun kinerjanya (5,93%) masih di atas benchmark (4,68%), meski sempat melambat di periode bulanan terbaru.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Education 28 Juli 2026

Apa Itu Pasar Obligasi? Mengapa Memahami Pasar Obligasi Penting Sebelum Berinvestasi di Reksa Dana Pendapatan Tetap

Banyak investor pemula mengira bahwa pergerakan nilai reksa dana hanya dipengaruhi oleh kondisi pasar saham. Padahal, bagi reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran, pasar obligasi memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kinerja investasinya.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Education 27 Juli 2026

Apa Itu Profil Risiko Investasi dan Bagaimana Menentukan Strategi Investasi yang Sesuai?

Belakangan ini, investasi semakin populer di kalangan masyarakat. Berbagai informasi mengenai keuntungan saham, reksa dana, hingga aset lainnya mudah ditemukan di media sosial. Sayangnya, tidak sedikit orang yang mulai berinvestasi hanya karena Fear of Missing Out (FOMO) atau takut ketinggalan tren, tanpa melihat apakah instrumen investasi tersebut sesuai dengan karakter dan kemampuan mereka dalam menghadapi risiko.

Baca Selengkapnya

Aplikasi SayaKaya:
Mudah, Cepat, dan Terkurasi!

Semua orang kini bisa berinvestasi Reksa Dana dengan mudah hanya lewat satu aplikasi saja. Download sekarang!

HFM - Unverified - Shadow HFM - Verified - Shadow HFM - Unverified HFM - Verified stars
Sayakaya Logo Copyright ©2024 Landing Page
Download Aplikasi
PT SAYAKAYA LAHIR BATIN
location Sahid Sudirman Centre lt 12
Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 13-15, Jakarta 10220
phone +62212527989
email hi@sayakaya.id
SayaKaya adalah aplikasi investasi reksa dana yang berlaku sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan produk reksa dana dan manajer investasi pilihan yang telah terkurasi. Dikelola dan dikembangkan oleh PT Sayakaya Lahir Batin yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan nomor registrasi KEP-17/PM.21/2021.

Investasi reksa dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Calon pemodal/pemodal wajib mempelajari prospektus sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.